TAMAN BACAAN MASYARAKAT
Pertemuaan ke :30
Narasumber : Bambang
Purwanto, S.Kom., Gr.
Moderator :
Rosminiyati
Penulis :
Satrianah
Alhamdulillah sampai
juga kita dipertemuan terakhir dalam kelas menulis ini, Alhamdulillah saya
dapat mengikuti kelas ini sampai akhir walaupun diawal-awal saya banyak
mengalami kendala dan kesulitan.
Saya sangat
bersyukur bisa bergabung dengan orang-orang hebat di kelas ini, semoga saya
ketularan hebatnya. Dikelas ini saya bayak sekali mendapatkan ilmu dan
pengalaman. Yang dulunya saya sangat gaptek, sekarang sudah mulai bisa walaupun
sedikit-sedikit.
Selama mengikuti
kelas ini saya sudah menulis satu buku solo (materi Pokok Pendidikan Agama Islam
untuk Sekolah Dasar) dan 6 buku antologi, yaitu:
1. Buku Mentari Di Air Nau (buku antologi suara hati guru SBU)
2. Buku antologi memoar ufgred diri
3. Antologi kidung cinta sahabat
4. Sinergi guru dan siswa wujudkan prestasi
5. Melati ditaman hati (antologi kisah indah Bersama bunda)
6. Guru Hebat, Bermartabat dan Bersahabat (Antologi jejak mulia
menuju pendidik sejati.
Alhamdulillah
hal ini dapat saya lakukan berkat inspirasi, motivasi dan dukungan dari para
narasumber hebat. Maka dari itu saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada seluruh Narasumber dan rekan-rekan yang ada dikelas ini.
Malam ini
pemateri kita adalah bapak Bambang Purwanto, S.Kom., Gr. Yang akan mengupas
tentang: mengelola taman bacaan. Sebelum kita mengelolah taman bacaan tentunya
kita harus mempunyai bahan bacaaan.
Malam ini
bapak Bambang Purwanto, S.Kom., Gr. Akan menceritakan pengalamannya tentang
mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM AS Lebakwangi saat berdiri masih
bergabung dengan rumah. Rumah mungil berukuran 21 meter peregi. Rumah yang
terdiri dari Ayah Salwa, Ibu Salwa dan Salwa anak semata wayang.
TBM AS
Lebakwangi hadir karena kepedulian kepada anak-anak. Ayah Salwa sang pendongeng
merasa perlu mengajak anak-anak untuk senang membaca. Awal berdiri tidaklah
mudah. Tantangan dari pasangan pun menjadi tantang pertama yang harus
dinegosiasi. Memberikan penjelasan kepada pasangan itu pun butuh perjuangan
alias senyuman manis.
Mengawali
dengan mengumpulkan buku-buku yang dimiliki di rumah. Terkumpul ada sekitar 200
buku. Kami simpan di sebuah box. Setelah terkumpul, saya memilih tanggal yang
sekiranya baik, maka kami lahirkan TBM Ayah Salwa pada tanggal 5 Oktober 2011.
Berarti sekarang umumnya sudah masuk 10 tahun.
Mengawalinya
kami siapkan sebuah rak, dengan 3 trap. Rak pertama saya simpan koran dengan
buku pengunjung. Rak kedua saya simpan 20 buku cerita anak-anak. Rak ketiga
saya simpan majalah bobo sebanyak 20 buah. Setiap pagi saya simpan di teras.
Rumah kami tanpa pagar. Anak-anak sangat mudah sekali menjamah buku yang kami
simpan di teras. Rumah kami kosong, karena Ayah Salwa dan Ibu Salwa bekerja.
Salwa saat itu usianya masih 8 tahun. Setiap pagi saya antarkan ke rumah Ibu,
sehingga rumah kosong. Kini Salwa sedang kuliah semester 2 di UNPAS dengan
Jurusan Kependidikan Bahasa Indonesia. Mohon doanya agar bisa menjadi guru yang
disenangi anak-anak kelak.
Perjuangan
membangun TBM saya melakukan pendekatan kepada tetangga, Ketua RT dan Ketua RW.
Walau saat itu saya sedang menjabat sebagai Ketua RT, kini sih sedang menjabat
Ketua RW 13 Lebakwangi Asri Desa Lebakwangi Kec Arjasari Kab Bandung
TBM AS Lebakwangi dalam menjalani
kegiatannya memanfaatkan facebook. Kini memang kurang aktif, karena pandemi dan
saya menjabat Ketua RW sehingga lebih fokus mengelola keperluan masyarakat.
Apa yang
dilakukan di facebook? Posting kegiatan-kegiatan yang dilakukan di TBM AS
Lebakwangi. Kegiatan awal memang tidaklah langsung mengajak anak-anak membaca.
Cara perdana adalah dengan mengadakan Dongeng Ayah Salwa. Ternyata anak-anak
senang mendengarkan dongeng. Buku-buku kami keluarkan dan di gelar di meja yang
telah disiapkan. Anak-anak berkumpul dan mendengarkan dongeng.
Tinggal di
Kabupaten Bandung sangatlah beruntung. Banyak pegiat literasi yang lebih dulu
bergerak dibidang literasi. Mereka tidaklah memikirkan biaya, militansinya
sangat terasa. Sebut saja TBM Arjasari dan Sudut Baca Soreang.
Dalam mengelo
la TBM AS Lebakwangi kami mencari pengelola yang sanggup menunggu. Bahkan kami
memiliki 5 generasi yang pernah menjadi pengelola harian. Mereka kami berikan
insentif. Mulai dari 100 ribu hingga yang terakhir 500 ribu. Dari mana uangnya
? awal dari pribadi, sampai akhirnya mendapatkan donatur karena mereka peduli
dan melihat kegiatan di Facebook.
Keutungan
membuat TBM adalah tempat pengabdian. Tempat belajar untuk ikhlas, sabar dan
senang dengan anak-anak. TBM tidaklah seseram Perpustkaan yang harus hening.
Coba bayangkan anak-anak dengan riang membaca dengan bersahutan. Mereka tidak
merasa terganggu. Bayangkan saat kita di perpusakaan sekolah misalnya, baru
ngobrol sebentarnya saja langsung orang yang terdekat akan menatap tajam
sembari sedikit mengeluarkan mata, heheh. Maaf jangan ribut ya
Interaksi
dengan TBM lain membuat jaringan TBM menjadi kuat. Silaturahmi pegiat literasi
memudahkan untuk saling menguatkan. Ini kegiatan benar-benar sosial, ngak ada
duitnya. Untungnya adalah kebahagiaan yang bisa melihat anak-anak membaca buku,
pinjam buku, cerita bersama , belajar komputer, belajar internet, belajar
bernyanyi, membuat puisi, dan banyak kegiatan lainnya.
Inilah materi
yang dapat saya tangkap pada malam ini, semoga bermanfaat.
Keren tulisannya Bunda satrianah
BalasHapus